Mendengar nama Dea Anugrah disebut sepertinya bukan hal yang asing bagi penggemar buku-buku Indonesia. Namun, saya ingin meminta maaf karena baru membaca satu buku karyanya, yaitu Kenapa Kita Tidak Berdansa. Sebagai catatan tambahan, ini juga merupakan buku nonfiksi pertama yang saya baca.
Biasanya, saya selalu bergelut dengan buku-buku fiksi di rak yang mulai kelelahan, menopang tumpukan buku hasil belanja impulsif. Namun, sejujurnya saya tidak mengeluh, saldo rekening saya yang mengeluh.
Saya sebenarnya tidak ingin bercerita panjang lebar. Saya hanya ingin mengabadikan bagaimana buku ini cukup menghibur sekaligus mengajak saya menyelami isi kepala Dea Anugrah. Buku ini tergolong tipis, hanya sekitar 130 halaman, dan berisi 17 tulisan nonfiksi. Beberapa di antaranya cukup membekas hingga saya dengan ikhlas membubuhkan stabilo Mildliner warna merah jambu yang pekat pada halaman-halaman favorit.
Namun, karena saya hanyalah pembaca awam, ada kalanya saya menemukan bagian yang tidak dapat saya simpulkan dengan mudah. Beberapa tulisan bahkan tetap menjadi misteri yang berujung pada kebingungan, lalu perlahan saya lupakan dua atau tiga hari kemudian.
Karena saya termasuk orang yang lebih senang membicarakan hal-hal yang saya nikmati, saya hanya akan menceritakan bagian-bagian favorit saya dan alasan mengapa bagian tersebut begitu berkesan. Jika kamu tertarik untuk menyelami tulisan nonfiksi maupun gaya penulisan Dea Anugrah, silakan tetap berada di laman ini, ya.
1. Kesan Pertama Membaca Dea Anugrah
Sebagai perkenalan pertama saya dengan Dea Anugrah, buku ini ternyata cukup menggugah. Saya menyukai cara penulisannya yang terasa personal dan dekat. Mungkin karena Kenapa Kita Tidak Berdansa? merupakan kumpulan esai yang ditulis dari sudut pandang orang pertama, sehingga setiap cerita terasa seperti percakapan yang akrab.
Persis seperti yang tertulis pada sinopsis di bagian belakang buku: seorang teman lama yang kita undang ke rumah larut malam untuk bercerita.
Walaupun topik yang disuguhkan sangat beragam, justru di situlah letak keseruannya. Bukankah seperti itu rasanya bercengkrama dengan seorang teman? Kita bebas membicarakan apa saja, mulai dari hal-hal berat hingga pandangan pribadi yang, jika dilempar ke ruang publik, bisa saja berubah menjadi bola panas.
Selain isi esainya yang menarik, gaya penulisan Dea Anugrah adalah alasan utama mengapa saya begitu mudah membalik lembar demi lembar halaman buku ini. Rasanya seperti sedang mendengarkan seseorang berbicara. Saya dibuat penasaran dengan tanggapannya mengenai teori konspirasi, sebuah cuitan yang sempat ramai di Twitter (yang sekarang diganti Elon Musk menjadi tidak enak untuk dibaca; X) , hingga pandangannya tentang konsep rumah.
2. Kutipan Favorit dari Dua Esai Pembuka
Pada esai pertama, "Misalkan Buni Yani Masuk Bui" (judul yang berima, menarik), saya bahkan melipat halaman 12 dengan rapi sebagai penanda. Tempat yang harus saya singgahi lagi jika beberapa bulan ke depan ingin bertemu Dea Anugrah melalui tulisannya.
Kutipan yang paling membekas bagi saya berbunyi:
"-Ada berapa banyak calon pebisnis yang mencekik impiannya sendiri karena takut gagal? Para kekasih meyakini bahwa mereka tak bisa hidup tanpa satu sama lain, pengarang yang tak kunjung penulis merasa kurang berbakat, dan si penguasaha pemula mengira tak ada yang berminat pada inovasinya, daftar ini bisa berlanjut, tetapi intinya: ketidaktahuan dan rasa takut yang mengiringnya kerap menciptakan ilusi kebenaran yang mengelabui kita."
Saya setuju dengan pola pikir tersebut. Sebagai seseorang yang terlalu sering merenung pada waktu anjing di luar terdengar paling khusyuk melolong, membaca ulang kalimat itu terasa seperti pengingat untuk tidak mudah termakan oleh hal-hal negatif yang bahkan belum tentu terjadi.
Pada esai kedua, "Kalau Nasi Sudah Jadi Bubur", Dea Anugrah tampil lebih reflektif. Ia banyak berbicara mengenai perubahan dirinya sejak duduk di bangku sekolah hingga beranjak dewasa.
Di halaman 24, terdapat kalimat yang menurut saya sangat kuat:
"Menyesali perbuatan-perbuatan jahat, atau tepatnya menyesali ketidaksanggupan bertindak dengan dasar belas kasih, bukanlah urusan sulit. Yang luar biasa sulit ialah tanggung jawab setelahnya."
Kalimat tersebut terasa sederhana ketika dibaca sekilas, tetapi semakin lama dipikirkan justru semakin berat maknanya.
3. Tentang Kesuksesan dan Merayakan Kehidupan Biasa
Pada esai "Lahir Seorang Rich Brian, Tenggelam Beratus Ribu", saya menemukan kutipan yang benar-benar saya cintai dan ingin saya banggakan seperti kalimat template sambutan seorang kepala sekolah.
"Kalau ada kesempatan, saya ingin mengatakan kepada teman saya bahwa tak peduli sukses atau tidak, menjadi besar atau tidak, dia tetaplah salah satu orang paling menyenangkan yang saya kenal. Dan atas dasar itu saja hidupnya patut dirayakan."
Mengapa saya mengutip kalimat itu lekat-lekat, karena menurut saya pribadi di jaman yang penuh dengan pencapaian setiap umat manusia pastinya akan ada orang-orang yang mungkin tanpa sadar membandingkan diri mereka sendiri, tidak dapat dipungkiri saya salah satu contohnya.
Dengan kutipan itu saya ingin teman-teman saya dan diri saya sendiri bisa lebih menghargai kehidupan yang biasa-biasa ini. Jangan terlalu mencambuk diri dengan kasar oleh ego kita sendiri.
Berjuang sudah pasti namun jangan sampai melupakan bahwa kita hadir di dunia ini saja sudah menjadi satu hal yang patut disyukuri dan dirayakan.
4. Ketika Luwuk Tiba-Tiba Muncul di Halaman Buku
Salah satu alasan mengapa saya ingin mengabadikan pengalaman membaca buku ini adalah esai berjudul "Asal-usul Penderitaan".
Dimana saya membaca Esai tersebut dalam posisi paling santai saat sedang bersama teman-teman saya, yang pasti punya kampung halaman, dan pergi ke bandara Soetta sebelum lebaran adalah kewajiban.
Jelas mereka punya daerah yang lebih dikenal oleh khalayak ramai dan dengan mudah dicerna saat ada perkenalan. Jambi, Padang, Bandung, Makassar, pastinya semua orang paham, semua orang mengerti itu nama kota di wilayah Indonesia.
Lalu ada yang menyebut Luwuk sebagai daerah asalnya.
Biasanya orang akan mengernyit, mencoba mengingat apakah pernah melihat nama itu di peta Indonesia. Beberapa teman dari Sulawesi Selatan akan mengangguk cepat dan berkata
"oh! Luwu Timur?"
Yang jelas dua daerah itu terbentang terlalu jauh dan lagi berbeda Provinsi.
Namun tiba pada Paragraf ke tiga yang tidak saya sangka-sangka, Dea Anugrah menjelaskan ia pernah datang ke Luwuk,
sebuah kota kecil yang indah di ujung Timur Sulawesi. Tulisnya dalam Buku.
Ada euforia tersendiri yang terasa ketika kota kecil itu berhasil ditemukan oleh masyarakat metropolitan. Karena sepanjang hidup diperantauan, kota itu sangat sulit dikenali.
Saking asingnya semua orang yang mengenal saya di Pulau Jawa menobatkan saya menjadi teman mereka yang hidup dari antah berantah di ujung Timur Sulawesi (yang sampai sekarang masih berada di teritorial Sulawesi Tengah)
Mungkin terdengar subjektif. Namun bukankah review buku yang baik memang tidak pernah benar-benar objektif?
5. Tentang Belas Kasih Dan Tulisan yang Baik
Dalam esai yang sama, Dea Anugrah mengutip pemikiran Schopenhauer:
"Pada dasarnya kita ini keras kepala."
Namun kemudian ia melanjutkan gagasan bahwa manusia tetap bisa berubah.
Saya menyukai bagian ini karena sejalan dengan keyakinan saya bahwa tulisan yang baik mampu mengubah cara seseorang memandang dunia. Jika filsafat bisa membuka jalan menuju belas kasih, maka sastra dan esai yang baik pun dapat melakukan hal serupa.
Mungkin karena itulah saya terus menulis, dan di hari senin yang berwarna merah ini saya menulis review hal-hal baik.
6. Arti Sebuah Nama dan Cara Menghormati Manusia
Sebelum membaca buku ini, saya hanya mengenal nama Dea Anugrah dari buku kumpulan cerpen terkenalnya (yang belum pernah saya baca karena sampulnya ngeri) Lucunya, selama ini saya mengira Dea Anugrah adalah seorang perempuan.
Bayangkan rasa malu saya ketika akhirnya menyadari bahwa penulis kumpulan esai ini adalah seorang laki-laki.
Dalam esai "Arti Sebuah Nama", Dea Anugrah membahas identitas, perempuan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Salah satu kutipan yang paling saya sukai adalah:
"Menghormati seseorang, saya kira, mencakup keinginan untuk mendengarkannya, mengetahui pendapat-pendapatnya, mempertimbangkan perasaannya, dan seterusnya, dan seterusnya, Bukan sekedar tak berbuat jahat kepadanya"
Jelas pola pikirnya membuat saya, sebagai perempuan itu sendiri merasa terenyuh. Saya hanya bisa berharap semoga pemikiran ini bukan hanya ada di kepala seorang Dea Anugrah saja tapi juga di kepala setiap manusia yang berakal.
7. Rumah, Memaafkan, dan Menjadi Perantau
Di pertengahan buku, Dea Anugrah membahas konsep rumah melalui esai "Rumah = Nostalgia + Fantasi".
Sebagai seorang perantau seperti Dea Anugrah sejak bangku Kuliah, berpisah jauh dengan keluarga membuat definisi dari rumah terasa berbeda.
Ada beberapa kalimat yang terasa begitu familiar karena sering bertengger pula dalam kepala saya. Namun tidak ingin saya beritahu dalam tulisan ini agar tetap menjadi hal yang hanya pribadi saya yang tahu.
"Tanganmu bakal terikat terus kalau kamu tak memaafkan."
"Tapi mereka belum meminta maaf."
"Apa perlunya? Kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri, bukan buat mereka."
Jika membaca dialog tersebut setahun lalu, saya mungkin akan berada di pihak orang kedua. yang ofensif. Berpendirian teguh untuk tidak akan memaafkan walaupun orang itu minta maaf. Ego masih sangat berpengaruh padahal frontal lobe sudah mencapai kesempurnaanya.
Namun hari ini saya mulai memahami bahwa memaafkan bukan berarti menghapus batas. Kita tetap bisa memaafkan tanpa harus memberikan akses kembali kepada orang yang telah menyakiti kita.
8. Enam Menit untuk Selamanya dan Luka Penggusuran
Dalam esai "Enam Menit untuk Selamanya", Dea Anugrah mengangkat kisah tentang Kampung Kebun Bayam.
Cara bercerita yang mengalir membuat saya merasa ikut hadir dalam perjalanan tersebut.
Salah satu kalimat yang membuat saya meringis adalah:
"--Warga melapor lagi dan tetap mendapat terima kasih. Terima kasih. Kata yang indah itu, pikirmu, pada suatu masa, pada suatu tempat, bisa berarti kerusakan mesti diterima sebab sudah dikasih."
Pembahasan mengenai penggusuran yang muncul beberapa kali dalam buku ini terasa menyedihkan. Saya dipaksa membayangkan komunitas yang telah dibangun bertahun-tahun perlahan menghilang begitu saja.
9. Kesimpulan Review Buku Kenapa Kita Tidak Berdansa
Dari 17 esai yang ada dalam buku ini, saya tentu tidak bisa membahas semuanya. Namun beberapa kutipan yang paling membekas sudah saya abadikan dalam tulisan ini.
Jika kamu sedang mencari buku nonfiksi Indonesia yang reflektif, personal, dan ditulis dengan gaya yang hangat, maka Kenapa Kita Tidak Berdansa? layak masuk daftar bacaanmu.
Terutama jika kamu merasa tidak terlalu dekat dengan novel atau fiksi. Buku ini bisa menjadi pintu masuk yang nyaman untuk mulai menikmati kumpulan esai Indonesia.
Penilaian pribadi:
Ayo Kita Berdansa/10
Karena beberapa buku memang tidak perlu dinilai dengan angka. Mereka cukup diajak berdansa sekali lagi.




















